Pemecahan nilai IPM ke dalam komponen-komponennya sangat krusial untuk keperluan diagnosis tata kelola pembangunan. Jika skor total IPM hanya memperlihatkan "hasil akhir" (seperti nilai rapor), maka data per komponen ini bertindak sebagai alat evaluasi untuk melihat "di mata pelajaran apa daerah tersebut unggul atau kurang".
Terdapat empat indikator pembentuk dari ketiga dimensi tersebut:
Komponen Kesehatan — Umur Harapan Hidup (UHH) saat lahir: Mengukur rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang sejak lahir. Komponen ini mencerminkan tingkat keberhasilan program pengentasan stunting, pemenuhan gizi, ketersediaan air bersih, hingga keandalan infrastruktur rumah sakit dan puskesmas.
Komponen Pendidikan — Harapan Lama Sekolah (HLS): Mengukur lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak usia 7 tahun ke atas di masa mendatang. Ini merepresentasikan ketersediaan ruang kelas dan akses sekolah bagi generasi baru.
Komponen Pendidikan — Rata-rata Lama Sekolah (RLS): Mengukur jumlah tahun yang secara aktual telah dihabiskan oleh penduduk usia 25 tahun ke atas untuk menempuh pendidikan formal. Ini menunjukkan realita tingkat pendidikan mayoritas angkatan kerja saat ini.
Komponen Standar Hidup Layak — Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan (PPP): Mengukur rata-rata pengeluaran riil penduduk dalam setahun. Angka ini mencerminkan kapasitas daya beli, keterbukaan lapangan pekerjaan, dan seberapa tebal "dompet" masyarakat untuk memenuhi standar hidup yang baik.